Pulang ke Indonesia

Tuesday, September 16, 2014

Makanya pulang, bro!"
Ajakan (klise) satu ini harusnya tidak serta merta dilontarkan pada anak bangsa, alumni S1 kampus luar negeri. Tidak dapat disangkal memang, setelah bertahun-tahun di negeri orang, banyak yang betah dan ingin hidup “enak". Terlepas dari itu, jika kita mengaitkan status kita sebagai pengisi kemerdekaan, maka kontribusi (baca: wujud nasionalisme) kita harusnyatidak picik. Kontribusi tidak selalu bisa dan harus langsung, dan saat ini juga. Ingat, tiap orang punya track perjuangannya masing-masing untuk Indonesia yang lebih baik.
Mari kita dengar contoh dalih sebagian yang “tidak mau pulang":
"Enakan disini lah, gajinya gede, gak tua di jalan, lingkungannya bersih, birokrasi cepat, dan pendidikan buat anak nanti terjamin mutunya.""Peneliti dan dosen di Indonesia tidak diperhatikan kesejahteraannya, bro. Ntar deh, gue pulang kalau udah jadi profesor dan punya banyak tabungan buat masa tua, hehe.""Emangnya gampang cari kerja di Indonesia?? Ngapain juga saya bersempit-sempitan dalam kompetisi yang peluangnya kecil banget begitu…"
Terlepas keberangan yang timbul (di hati sebagian kita yang membaca), ada beberapa poin yang bisa kita pelajari dari baris ekpresi-eksperi ini.
Pertama, ada banyak hal yang bisa kita ambil dan pelajari dari negera-negera lain. Mereka yang di luar negeri bisa merasakan langsung manfaat dan tahu secara mendetil mengenai hal-hal positif dari negara lain yang negara kita belum punya. Contohnya dalam bidang pendidikan, mereka yang pernah menyekolahkan anak-anaknya di sekolah dasar di Jepang atau Singapura tahu bagaimana para siswa disana exactly dididik. Terus, soal transportasi umum misalnya. Kenapa di satu negara jalanannya nggak macet tapi trasportasi umumnya (yang tentunya jadi banyak sekali penggunanya) tetap bisa memuaskan? Mereka bisa jadi corong informasi untuk warga Indonesia dengan jalan citizen journalism. Ada banyak kebaikan lainnya yang bisa mereka “laporkan" selama mereka di rantau, terlebih soal public service, tata kota, dan kebersihan lingkungan.
Kedua, terkait cita-cita dan visi tiap individu, soal ada-nggaknya track menuju kesana di Indonesia. Adakah track yang lebih cepat dan lebih baik? Mau kaya, mau jadi pengusaha, atau mau jadi solusi untuk masalah negeri ini? Banyak ragam cita-cita di skala individu dan banyak pula ragam jalan kesana. Buat yang ingin jadi entrepreneur handal mungkin prefer belajar bikin bisnis di Singapura yang pemeritahnya proaktif membantu mewujudkan ide-ide bisnis. Terus, buat yang ingin jadi peneliti, musti S3 dong! Cari research groupyang subur publikasi dan terkenal ahli di bidang yang kita senangi. As a rule of thumb, riset di bidang hard sciencessecara umum berkiblat ke Amerika Serikat. Buat yang ingin jadi menteri ESDM, mungkin lebih cocok jika langsung mulai berkarir di BUMN/perusahaan tambang/energi swasta di dalam negeri, sambil menyisihkan waktu untuk belajar S2 ekonomi/management. Singkatnya, karena tiap orang punya trackmematangkan diri, bentuk dan waktu kontribusi jangan digeneralisir!
Ketiga, soal mau-tidaknya kita bersusah-susah. Kondisi negeri ini pasti akan membaik, kata teman saya, dengan atau tanpa kita di dalamnya. Saya setuju itu. Negara ini sedang bergerak ke arah yang lebih baik kok, contohnya inovasi sistem ticketing KAI. Nah, pertanyaannya, apakah kita ingin ada di dalam sana untuk secara aktif membenahi negeri ini atau hanya akan menikmati hasilnya nanti? Tentu rasa kecintaan yang timbul dan pahala dari keduanya akan beda.
Keempat, soal kapan kita siap pulang ke Indonesia. Setelah menentukan trackyang dipilih, kita baiknya menakar kira-kira sampai di level mana bekal kita akan cukup untuk back for good. Contoh: jika ingin bikin biro IT-based business consultant sendiri, 5-7 tahun pengalaman kerja di perusahaan ternama dunia seperti IBM, cukup lah. Kalau mau jadi dosen atau buka start upkomersialisasi hasil riset, ya musti S3 dulu. Kalo mau bikin anak perusahaan di Indonesia, ya musti ngabdi dulu sampai ada chance dan trust untuk ekspansi. So, soal waktu nggak harus “sekarang juga".
Kelima, soal apakah Indonesia sudah siap menampung kita. Contoh: seseorang pengennya peneliti dunia bidang partikel subatom. Alamat dia takkan pulang-pulang ke Indonesia karena pemerintah Indonesia nggak punya duit buat riset yang begituan. Maksudnya, ada bidang-bidang keahlian yang gencar promosinya, basah lahanya, dan ada sumber dayanya di Indonesia. Namun ada juga yang tidak, bahkan tidak relevan sama sekali dengan kondisi Indonesia saat ini. So, kita juga musti lebih mengenal kondisi negeri ini dan proyeksi ke depannya di tahun-tahun kita selesai mengumpulkan “bekal".
Terakhir, buat yang belum merasakan sekolah di luar negeri, carilah kesempatan untuk merantau ke negeri orang, keluar dari kandang, melihat Indonesia dari luar, terutama dengan jalan studi S2 dan S3! Ada banyak kok tawaran beasiswanya, baik dari pemerintah Indonesia, pemerintah luar negeri, atau bahkan kampusnya langsung. Belajarlah dari para ahli dan kampus-kampus world class. Kemudian bawalah pulang harta karun, yaitu ilmu, ide, dan koneksi untuk berkolaborasi. Selamat berjuang kawan-kawan!
Re-blog
Mas Bening tirta.
Sangat menginspirasi.
Tulisan asli hisa dilihat disini ^^
http://m.kompasiana.com/post/read/578131/3/pulang-ke-indonesia.html

You Might Also Like

0 komentar

Communities

Blogger Perempuan